Stellantis Mengaktifkan Kembali Mesin Diesel di Eropa Di Tengah Pergeseran Preferensi Konsumen

26

Stellantis, produsen otomotif multinasional, mengubah arah produksi mesin diesel di Eropa, dengan alasan permintaan pelanggan yang berkelanjutan sebagai pendorong utama. Langkah ini dilakukan setelah periode penyesuaian powertrain yang signifikan bagi perusahaan, termasuk pengenalan kembali Hemi V8 di Ram 1500 dan pembatalan hibrida plug-in dan truk Ram serba listrik.

Kebangkitan Diesel yang Tak Terduga

Meskipun terjadi penurunan penjualan diesel selama satu dekade setelah skandal “Dieselgate” Volkswagen, Stellantis diam-diam memperkenalkan kembali opsi diesel ke setidaknya tujuh model Eropa. Pada tahun 2025, bahan bakar diesel hanya menyumbang 7,7% dari penjualan mobil baru di seluruh benua. Namun, pembuat mobil tersebut melaporkan bahwa permintaan tetap ada di segmen tertentu, yang menyebabkan berlanjutnya produksi versi diesel untuk kendaraan seperti Alfa Romeo Stelvio, DS 7, dan model Peugeot, Opel, dan Citroën tertentu.

Mengapa Sekarang? Tantangan Pasar EV

Keputusan untuk menggunakan kembali mesin diesel bukan hanya sekedar respon terhadap preferensi konsumen namun juga merupakan langkah strategis dalam lanskap otomotif yang berkembang pesat. Adopsi kendaraan listrik (EV) di Eropa belum memenuhi ekspektasi awal, sehingga menciptakan tekanan pada produsen mobil untuk beradaptasi.

Ketika pabrikan Tiongkok secara agresif memperoleh pangsa pasar di sektor kendaraan listrik, produsen mobil Eropa mencari cara untuk membedakan penawaran mereka. Mesin diesel, meski kontroversial, tetap menjadi pilihan yang layak bagi konsumen di wilayah yang infrastruktur kendaraan listriknya kurang atau keterjangkauannya menjadi perhatian.

Pendekatan Pragmatis terhadap Diversifikasi Powertrain

Stellantis secara eksplisit menyatakan alasannya: “Kami telah memutuskan untuk mempertahankan mesin diesel dalam portofolio produk kami—dan dalam beberapa kasus—untuk meningkatkan penawaran powertrain kami.” Perusahaan ini secara efektif mengakui bahwa pendekatan universal terhadap elektrifikasi powertrain tidak berhasil, dan strategi yang lebih terdiversifikasi diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan yang lebih luas.

Penggunaan kembali mesin diesel menyoroti perubahan pragmatis dalam industri otomotif, di mana realitas pasar sering kali lebih besar daripada tujuan ideologis jangka panjang. Meskipun masa depan transportasi tidak diragukan lagi adalah transportasi listrik, transisi ini terbukti lebih lambat dan lebih rumit dari yang diperkirakan sebelumnya, sehingga memaksa para pembuat mobil untuk mengevaluasi kembali strategi mereka saat ini.

Langkah ini menunjukkan bahwa mesin pembakaran internal—khususnya diesel—akan tetap relevan di Eropa di masa mendatang, bahkan ketika industri sedang mendorong menuju elektrifikasi.